Mimpi Yang Tak Terbatas

Hai guys, kali ini saya memposting sebuah cerita motivasi, walau sebenarnya lebih ke pengalaman sih, hehe..cerita ini pengalaman menjadi anak rantauan di Pare, Kediri. Salah satu desa yang berada di Kabupaten Kediri yang sekarang di juluki "Kampung Inggris". Berikut ini saya beri judul "Mimpi Yang Tak Terbatas", karena ini merupakan salah satu mimpi saya dan menjadi sebuah loncatan yang baik untuk terus melanjutkan mimpi hingga saya benar-benar meraihnya. Btw, cerita ini saya buat saat semester akhir dan sekarang saya udah wisuda. Alhamdulillah :) , lets check it out


Mimpi Yang Tak Terbatas

Akhir semester 4, seperti biasa setelah perkuliahan selesai, maka untuk kalangan mahasiswa bersiaplah menyambut libur panjang yang teramat panjang. Yah, libur selama 3 bulan, semester baru masih sangat lama. Pertanyaannya, mau di habiskan untuk apa libur 3 bulan itu? Berkaca pada libur semester 2 kemarin, waktu hanya di habiskan dengan berada di rumah saja, tak ada kegiatan berarti, setiap hari hanya bangun telat, setelah bangun ya mandi, makan, nonton, tak lama tidur, bangun, makan, nonton, hingga malam menjelang tidur kembali, hal membosankan ini berulang setiap hari. Dan setelah libur itu berakhir saya berpikir libur seperti itu tak boleh berulang, saya harus menjadi manusia yang produktif dan kreatif, ke depannya. Dan sebelum memasuki libur semester saya mulai menyusun planning untuk mengisi libur semester kali ini.
“Demikianlah persentase tadi, semoga dapat bermanfaat, terima kasih dan selamat siang” ucap si pemateri menutup persentase sekaligus menutup perkuliahan kala itu
Pukul 12.00 WITA mata kuliah Genetika akhirnya selesai, saya dan teman-teman bergegas keluar kelas dan menuju ke kantin, berhubung sedari di kelas perut sudah keroncongan. Sambil menunggu pesanan, beberapa perbincangan mulai mengalir dari tugas praktikum yang belum selesai, ujian dari dosen belum terlaksana, dosen yang belum ngasih ujian, hingga ke tema mau ngapain libur semester kali ini. Beberapa temanku memilih pulang kampung dan ngabisin waktu di kampung bersama keluarga, ada yang memilih ingin keluar kota untuk berlibur sekalian mengunjungi paman dan bibinya untuk silaturahmi, ada yang memilih tetap di Makassar karena ada beberapa kegiatan organisasi yang akan diadakan, dan terakhir ada yang memilih ingin pergi belajar Bahasa Inggris di kampung Inggris, yang kata orang selepas dari sana kita akan mahir dan excellent berbahasa inggris. Mendengar itu, saya tertarik untuk tahu lebih lanjut. Saya pun, mulai menelusuri google mencari tahu mengenai kampung inggris. Setelah beberapa membaca review, saya semakin menarik. Pasalnya, belajar bahasa inggris di sana di sertai dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, mulai dari pembelajaran outdoor, tidak berpaku indoor terus dalam proses pembelajarannya, di sana tersedia beberapa pilihan lembaga bahasa inggris yang bisa di pilih sesuai keinginan kita, mau belajar dari Basic atau jika hanya ingin belajar TOEFL, juga bisa. Satu hal lagi, di sana kebiasaan pendatang yang belajar, menyewa sepeda untuk di gunakan berjalan-jalan di sekitar lokasi Kampung Inggris, makanan yang amat murah, sepuluh ribu rupiah kita sudah bisa makan nasi ayam, bahkan bakso hanya se harga Rp. 8.000, dan tentunya masyarakat sangat ramah kepada para pendatang.
Ketika bertemu dengan Dian, teman yang beberapa hari lalu mengungkit dia ingin ke sana, maka ku sampaikan keinginan ku juga untuk ikut ke sana, dan ternyata beberapa teman juga tertarik. Setelah beberapa hari, ternyata yang fix pergi hanya tiga orang, beberapa teman lain tidak di izinkan oleh orang tuanya.
Setelah menyampaikan niatku, sebearnya orang tua tidak mengijinkan, karena libur panjang itu juga bertepatan bulan ramadhan, namun karena keinginan ku yang begitu besar, akhirnya di ijinkan. Ke esokannya, orang tua pun mengantarku hingga ke bandara, setelah tiba di sana aku bertemu dua orang temanku, Dian dan Uti. Kami bersama-sama menuju masuk ke bandara untuk check in yang sebelumnya sudah berpamitan ke kedua orang tua. Di pesawat, saya sedikit gugup, karena ini pertama kalinya saya naik pesawat, namun saya berusaha tetap tenang dengan tidak memperlihatkan muka gugup ku ke kedua temanku yang berada di sampingku. Ketika pesawat akan lepas landas saya membaca doa yang di tuliskan nenek saya. Beberapa jam kemudian, tibalah saya di Bandara Juanda, di bandara telah ada seseorang yang menuunggu kedatangan kami yaitu paman Dian yang akan mengantar kami menuju Kampung Inggris. Menempuh perjalanan mobil selama 3 jam, tibalah kami di Kampung Inggris, tepat kantor office lembaga yang sebelumnya kami sudah daftar, setelah mengurus beberapa administrasi, salah satu orang pegawainya mengantar kami ke tempat asrama kami, dengan bawaan yang teramat banyak, akhirnya kami sampai. Niat untuk langsung beristrahat pupus seketika, saat melihat kamar yang di tempati sangatlah kotor, kami harus membersihkannya terlebih dahulu, setelah itulah barulah kami benar-benar istrahat, betul-betul hari yang melelahkan belum lagi dahaga yang teramat kuat, tapi mengingat saat itu kami berpuasa, terpaksa kami hanya beristrahat hingga sore. Menjelang buka puasa, kamipun keluar untuk mencari bukaan puasa, saat kami keluar sudah banyak orang berlalu lalang dengan sepeda entah ingin ke mana, mungkin sama dengan kami, mencari buka puasa, berjalan ke arah depan, kami banyak melewati, orang-orang yang sedang ngabuburit, dengan bermain game, ada juga yang masih sementara belajar, dan banyak lagi.
Keesokannya, pembelajaran pun di mulai, dengan jadwal pukul 10.00 WIB pelajaran Pronounciation, setelah duhur di lanjutkan dengan Speaking dan menjelang sore dilanjutkan Conversation, di sana kami mulai mengenal satu sama lain, pendatang yang ada, berasal dari berbagai kota, ada yang dari Malang, ada yang dari Makassar seperti saya, ada yang dari Samarinda, ada yang dari Bali, bahkan ada yang dari Negara tetangga, Thailand. Semua berkumpul jadi satu, senang rasanya bisa berteman dari berbagai kota. Beberapa hari terlewatkan begitu menyenangkan, namun di tengah kesenangan terkadang kesedihan menghampiri, saat menjelang buka puasa, saya selalu teringat suasana rumah, juga suasana salat tarwih berjamaah di sebuah musholla, suasana sahur, dan semua itu sekarang berbeda, pasalnya ini pertama kalinya saya tak berada di tengah-tengah keluarga di moment bulan puasa ramadhan. Begitu aku menguatkan diri, untuk tetap semangat belajar, karena perjalanan masih panjang, masih banyak proses yang akan ku lewati, berprinsip seperti yang dikatakan Ali bin Abi Thalib : Jika Engkau Tak Sanggup Menahan Penderitaan Belajar, maka kau harus Menahan Perihnya Kebodohan, dan tentu saja tak menginginkan hal itu. Saya pun kembali meluruskan niat, memantapkan hati, bahwa ini bagian dari proses menuju kesuksesan, maka saya kembali giat belajar, di sela-sela waktu saya belajardengancoach yang satu asrama dengan kami. Hingga H-14 menuju hari raya idul fitri, pembelajaran di istrahatkan untuk sementara waktu, dan beberapa dari kami pun kembali ke kampung halaman, untuk teman-teman yang kampungnya masih berada dalam satu pulau yang sama yaitu pulau jawa, tentu kembali ke kampung halaman, tapi hal itu tidak berlaku untuk kami 3 orang, kami tidak dapat kembali, karena tiket untuk pulang kampung tentu melonjak naik mendekati hari Raya Idul Fitri, dan juga niat kami di awal untuk belajar di Pare juga selama 2 bulan, sementara kami di sana masih 2 minggu, akhirnya kami memutuskan menyewa sebuah kamar kontrakan untuk menetap beberapa hari sambil memutuskan kami akan ke mana selanjutnya, kami akan merayakan di mana hari Raya Idul Fitri ini, sementara kami di Pare waktu itu berstatus anak rantau. Menginap beberapa hari, kami pun tak melewatkan untuk menyusuri Kampung Pare dengan mengunjungi tempat-tempat wisata terdekat yang hanya bermodalkan sepeda, kami mengunjungi Candi Surowono dan Goa yang berada di bawah tanah. Dan setelah itu, selama kami menginap di rumah kontrakan tersebut, tentu kami tidak lupa mengulang-ngulang pelajaran yang didapatkan, dan kami pun mulai serius memikirkan ke mana kami nantinya akan pergi menjelang Hari Raya dan yang akhirnya kami kembali lagi ke Pare untuk melanjutkan belajar selama 1 bulan. Akhirnya kami memutuskan, karena Dian memiliki keluarga di Surabaya, jadi ia akan kembali ke Surabaya dan Uti memiliki keluarga di Jakarta, jadi ia akan ke Jakarta, namun bagaimana dengan saya? Saya tak memiliki tujuan, sebenarnya saya memiliki sepupu yang tinggal di Bandung, tapi ketika saya hubungi, kala itu bertepatan ia ingin mudik ke Makassar, terpaksa saya tidak memiliki lagi tujuan ingin ke mana, akhirnya Uti dan Dian memberikan opsi, ingin ikut ke Surabaya bersama Dian atau ikut ke Jakarta bersama Uti. Beberapa pertimbangan, akhirnya saya ikut bersama Uti ke Jakarta. Dengan melewati rel kereta api selama 12 jam lamanya, kamipun sampai di stasiun Senen di sana kami sudah di tunggu oleh tante Uti dan mengantar kami ke rumahnya. Beberapa hari di sana saya benar-benar merasa kehilangan, keinginan kuat untuk pulang, terasa hampa dan kosong berada di sana, suasana Ramadhan yang sangat berbeda, membuatku bersedih hati, hingga hari Raya Idul Fitri telah tiba, tak sanggup aku merasakan kesepian ini, mulailah ku tuangkan apa yang kurasakan saat itu dalam sebuah buku.
 “Ku langkahkan kaki jauh dari kampung, meninggalkan rasa kasih pada sanak saudara, tak terasa oleh seorang perantau telah tiba rasa rindu itu menduri di dalam hati hingga membuat sesak, tangis yang kering akan waktu yang tak mampu terobati pula, karena perantauan masih jauh, masih melalang buana dan mencari tujuan hidup, menuntut ilmu yang tak kenal ruang dan waktu, semoga kelak perantauan berakhir dan masih akan tetap sama tempat paling indah untuk kembali yaitu kampung halaman dan berbagi cerita bersama sanak saudara. Walau tak bersama mereka, maafkan lahir dan batin. Taqaballahu minna wa minkum. Minal aidin walfaidzin”, tulisku.
Satu minggu setelah hari raya, saya dan Uti kembali ke Pare, di Pare kami melanjutkan belajar dan tak terasa satu bulan telah berlalu, walau bagiku teramat berat, tapi ku lalui dengan senang hati hingga akhirnya kamipun kembali ke kampung halaman.
Hari ini saat kutuliskan cerita ini, saya sudah berada di semester akhir alias dalam tahap penyusunan skripsi, beberapa tahapan telah ku lalui lagi dan beberapa tahapan itu telah ku ambil hikmahnya. Sama seperti hikmah-pelajaran yang ku dapatkan di Pare. Kini saya harus menyambut masa depan setelah wisuda selesai dan memasuki dunia baru yaitu dunia kerja, dan sekali lagi perjalanan masih panjang, namun di tiap perhentian selalulah mengambil pelajaran dari alam dan manusia serta senantiasa mengingat sang Khalik, sang Maha Menentukan takdir manusia. Semoga saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya. Amiin.

Komentar